Rejang Lebong – Publikpost.com – Yayasan Karunia Insani bekerja sama dengan Ikatan Konselor Adiksi Indonesia (IKAI) dan United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC) menggelar Skill Training Workshop Treatnet Vol.B Motivational Interviewing and Cognitive Behavioral Therapy di Hotel Syakilah Curup, 9–12 Juni 2026.

Kegiatan yang diikuti konselor adiksi dan praktisi rehabilitasi dari berbagai daerah di Indonesia tersebut secara resmi dibuka oleh Kepala Badan Narkotika Nasional (BNNP) Provinsi Bengkulu, Brigjen Pol. Roby Karya Adi, S.I.K., M.H.
Dalam sambutannya, Brigjen Pol. Roby Karya Adi menegaskan bahwa narkoba merupakan kejahatan luar biasa (extraordinary crime) yang memberikan dampak kerusakan sangat besar terhadap bangsa Indonesia. Berdasarkan Survei Nasional Tahun 2025 yang dilaksanakan BNN bersama BRIN dan BPS, prevalensi penyalahgunaan narkotika di Indonesia mencapai 2,11 persen atau sekitar 4,15 juta jiwa, meningkat dibandingkan survei sebelumnya yang berada pada angka 1,73 persen.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi perhatian serius karena peredaran narkoba kini telah menjangkau hingga pelosok desa dan bahkan dapat diakses oleh anak-anak di bawah umur.

Roby juga menyoroti posisi Kabupaten Rejang Lebong yang berbatasan langsung dengan Provinsi Sumatera Selatan sehingga berpotensi menjadi salah satu jalur masuk peredaran narkotika. Karena itu, BNN terus mendorong penguatan upaya pencegahan dan penanganan narkoba di daerah, termasuk pembentukan Badan Narkotika Kabupaten (BNK) Rejang Lebong.
Ia menegaskan bahwa penyalahgunaan narkotika merupakan persoalan kompleks yang tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga aspek psikologis, sosial, dan ekonomi, sehingga membutuhkan penanganan yang komprehensif dan melibatkan berbagai sektor.
“Setiap individu yang berhasil diselamatkan dari ketergantungan narkoba merupakan aset berharga bagi bangsa dan negara. Melalui rehabilitasi yang tepat dan berkelanjutan, mereka memiliki kesempatan untuk pulih dan kembali menjalankan fungsi sosialnya secara produktif di tengah keluarga maupun masyarakat,” ujar Roby.
Ia juga mengapresiasi pelaksanaan Workshop Treatnet Vol.B yang digelar Yayasan Karunia Insani karena dinilai memiliki peran strategis dalam meningkatkan kompetensi para konselor rehabilitasi guna mendukung proses pemulihan korban penyalahgunaan narkotika secara optimal.
Pelatihan yang menghadirkan narasumber Narendra Narotama, S.T., M.E. tersebut bertujuan meningkatkan kapasitas sumber daya manusia dalam memberikan layanan rehabilitasi penyalahgunaan narkotika melalui pendekatan Motivational Interviewing (MI) dan Cognitive Behavioral Therapy (CBT) yang telah diakui secara internasional.
Workshop ini diikuti oleh 32 peserta yang terdiri dari konselor adiksi dan praktisi rehabilitasi dari berbagai daerah di Indonesia. Para peserta berasal dari Pekanbaru, Jambi, Padang, Palembang, Lubuklinggau, Musi Rawas, Pagar Alam, Prabumulih, Kota Bengkulu, dan Kabupaten Rejang Lebong. Kehadiran peserta dari berbagai wilayah tersebut menunjukkan tingginya komitmen para pegiat rehabilitasi dalam meningkatkan kompetensi dan kualitas layanan rehabilitasi bagi penyalahguna narkotika melalui pendekatan yang profesional dan berbasis bukti ilmiah.

Sementara itu, Ketua Yayasan Karunia Insani, Afriyansyah, menyampaikan bahwa pelaksanaan pelatihan ini menjadi bagian dari rangkaian menuju satu dekade perjalanan yayasan dalam memberikan pelayanan kemanusiaan dan rehabilitasi bagi masyarakat.
“Selama satu dekade ini tentu tidak selalu mudah. Ada tantangan yang harus dihadapi, keterbatasan yang harus diatasi, dan berbagai proses yang harus dilalui. Namun berkat dukungan banyak pihak, kerja keras para pengurus, relawan, mitra, dan masyarakat, Yayasan Karunia Insani dapat terus tumbuh dan memberikan kontribusi bagi kemanusiaan,” ujar Afriansah.

Ia mengatakan, momentum menuju usia satu dekade bukan hanya menjadi perayaan organisasi, melainkan juga refleksi atas perjalanan pengabdian sekaligus komitmen untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan.
“Kami ingin menjadikan usia satu dekade sebagai titik awal untuk memperluas dampak, meningkatkan kualitas layanan, memperkuat kemitraan, dan melahirkan lebih banyak insan yang siap melayani dengan kompetensi dan hati. Kami percaya investasi terbaik adalah investasi pada manusia. Ketika kualitas sumber daya manusia meningkat, maka kualitas pelayanan kepada masyarakat pun akan semakin baik,” katanya.
Menurut Afriyansyah, pelatihan Treatnet Vol.B merupakan salah satu bentuk nyata komitmen yayasan dalam membangun kompetensi sumber daya manusia, khususnya para konselor adiksi yang berada di garis depan layanan rehabilitasi.
“Saya mengajak seluruh peserta untuk mengikuti pelatihan ini dengan sungguh-sungguh, aktif berdiskusi, berbagi pengalaman, dan membangun jejaring kolaborasi yang kuat. Semoga ilmu yang diperoleh dapat diterapkan secara nyata dalam pekerjaan dan pengabdian kita masing-masing,” tutupnya.

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Rejang Lebong yang diwakili Asisten II Rejang Lebong menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya Skill Training Workshop Treatnet Vol.B yang digagas Yayasan Karunia Insani bersama IKAI dan UNODC.
Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan langkah strategis dalam memperkuat kapasitas sumber daya manusia, khususnya para konselor adiksi yang memiliki peran penting dalam mendampingi proses pemulihan penyalahguna narkotika.
Pemerintah Kabupaten Rejang Lebong, lanjutnya, mendukung penuh berbagai upaya pencegahan dan penanganan penyalahgunaan narkotika yang dilakukan secara kolaboratif antara pemerintah, lembaga rehabilitasi, organisasi profesi, dan masyarakat.
“Kami menyampaikan apresiasi kepada Yayasan Karunia Insani, IKAI, UNODC, serta seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam penyelenggaraan kegiatan ini. Pemerintah Kabupaten Rejang Lebong siap berkolaborasi dan bersinergi dalam berbagai program pencegahan, rehabilitasi, dan pemberdayaan masyarakat guna mewujudkan lingkungan yang sehat, aman, dan bebas dari penyalahgunaan narkotika,” ujarnya.
Melalui pelatihan yang berlangsung selama empat hari ini, para peserta diharapkan mampu meningkatkan keterampilan profesional dalam memberikan layanan rehabilitasi yang efektif, humanis, dan berbasis bukti ilmiah, sehingga dapat mendukung upaya pemulihan penyalahguna narkotika serta meningkatkan kualitas layanan rehabilitasi di Indonesia.(nz)












