Dugaan Markup dan Kerusakan Dini, Proyek Rabat Beton Rp183 Juta di Desa Bogor Baru Jadi Sorotan

KEPAHIANG, Publikpost.com– Pembangunan jalan rabat beton dan plat deker di Desa Bogor Baru, Kecamatan Kepahiang, Kabupaten Kepahiang, Probinsi Bengkulu yang menggunakan Dana Desa Tahun Anggaran 2025 senilai Rp183 juta kini menuai kontroversi. Selain adanya indikasi penyimpangan harga (markup), kondisi fisik bangunan di lapangan dilaporkan sudah mengalami kerusakan parah belum lama setelah pengerjaan selesai.

Berdasarkan data teknis yang disampaikan Ketua Tim Pelaksana Kegiatan (TPK) Desa Bogor Baru, Sakom, spesifikasi proyek mencakup lebar 130 cm, panjang 398 meter, kedalaman rata-rata 22 cm, serta pembangunan 6 titik plat deker. Namun, fakta di lapangan menunjukkan realitas yang bertolak belakang dengan standar konstruksi yang seharusnya dicapai dengan anggaran sebesar itu. Pantauan awak media menemukan sejumlah ruas jalan sudah retak dan gembur.

Ketika dimintai konfirmasi terkait spesifikasi dan pengawasan kualitas, Ketua TPK justru mengaku tidak mengetahui detail teknis pembangunan tersebut. Alasan yang diberikan adalah ia sedang mendampingi Kepala Desa (yang kini telah bersetatus mantan Kades) saat proses pengerjaan berlangsung. Ketidaktahuan pihak pelaksana terhadap proyek yang dipimpinnya sendiri ini semakin menguatkan dugaan lemahnya supervisi dan potensi ketidakberesan dalam pengelolaan anggaran.

Menanggapi temuan kerusakan tersebut, Sekretaris Desa (Sekdes) Bogor Baru, Aan, memberikan penjelasan bahwa lokasi pembangunan berada di area rawa yang menjadi kendala teknis utama. Ia menyatakan bahwa keberadaan mata air sebenarnya sudah diprediksi sejak perencanaan awal, namun volume air yang ditemukan pasca-pengerjaan ternyata jauh lebih banyak dari estimasi.

“Memang tempat pembangunan itu di rawa yang memang menjadi kendala dalam pembangunan. Rencana awal memang sudah diprediksi kalau ada mata air, dan setelah pekerjaan ternyata banyak mata airnya,” jelas Aan pada Kamis (9/7/2026) pagi di balai desa Bogor Baru.

Meskipun faktor geologis berupa tanah lunak dan mata air dapat mempengaruhi durabilitas jalan rabat beton, hal tersebut seharusnya dapat diantisipasi melalui rekayasa teknik yang tepat seperti perbaikan sub-grade atau penambahan ketebalan pondasi. Kerusakan dini pada proyek bernilai ratusan juta rupiah ini memicu pertanyaan publik mengenai apakah telah terjadi pengurangan spesifikasi material atau kesalahan metode pelaksanaan yang berujung pada pemborosan keuangan desa.

Masyarakat Desa Bogor Baru berharap instansi pengawas daerah segera melakukan audit forensik terhadap proyek ini untuk mengklarifikasi dugaan markup dan mengevaluasi tanggung jawab teknis para pelaksananya demi mencegah terulangnya kasus serupa di masa mendatang. (Jw)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *