Rejang Lebong – Publikpost.com – Mahasiswa baru Universitas Pat Petulai Kabupaten Rejang Lebong mendapatkan pembekalan peningkatan karakter dan wawasan kebangsaan sebagai bagian dari upaya menciptakan lingkungan kampus yang aman, tertib dan kondusif.

Kegiatan yang mengangkat tema “Merawat Persatuan Bangsa, Menjaga Ideologi Bangsa, Peran Generasi Muda Menghadapi Radikalisme dan Terorisme” tersebut dilaksanakan pada Senin, 5 Oktober 2026, mulai pukul 10.00 WIB hingga 11.30 WIB.
Kegiatan menghadirkan Kasat Intelkam, AKP Singgih Wirastho, S.H., sebagai narasumber dan diikuti oleh seluruh mahasiswa baru Universitas Pat Petulai. Dalam pemaparannya, ia menekankan pentingnya mahasiswa memiliki ketahanan ideologi serta kemampuan menyaring informasi di tengah derasnya arus informasi digital.
Menurut AKP Singgih, mahasiswa merupakan salah satu kelompok generasi muda yang perlu mendapatkan perhatian dalam upaya pencegahan paham radikalisme. Karena itu, lingkungan kampus diharapkan menjadi ruang pendidikan dan pengembangan prestasi, bukan menjadi tempat masuknya paham kekerasan.
“Mahasiswa harus memperkuat imunitas ideologi, memahami empat pilar kebangsaan dan menjadi bagian dari duta damai. Kita lebih mengedepankan upaya pencegahan daripada menunggu sampai seseorang masuk ke jaringan yang lebih keras,” ujar AKP Singgih dalam pemaparannya.
Ia juga mengingatkan mahasiswa agar mengenali sejumlah perubahan perilaku yang patut diwaspadai, antara lain tiba-tiba menjadi eksklusif, mudah mengkafirkan orang lain, menolak Pancasila dan penghormatan terhadap bendera, anti terhadap organisasi resmi kampus, gemar melakukan perdebatan keagamaan di media sosial hingga mengalami perubahan perilaku secara drastis.
Menurutnya, mengenali tanda-tanda tersebut bukan berarti langsung memberikan stigma kepada seseorang, tetapi menjadi bagian dari langkah awal untuk melakukan pendekatan, pembinaan dan pencegahan secara tepat.
AKP Singgih turut mengingatkan mahasiswa untuk memahami empat pilar kebangsaan, yakni Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika. Keempatnya dinilai menjadi fondasi penting dalam menjaga persatuan di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.
“Beda itu takdir, bersatu itu pilihan. Karena itu mahasiswa harus mampu menjaga persatuan, menghargai perbedaan dan tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang beredar di media sosial,” pesannya.
Dalam materi literasi digital, mahasiswa juga diminta menerapkan prinsip saring sebelum sharing. Setiap informasi, khususnya konten yang mengandung propaganda kekerasan, ujaran kebencian maupun ajakan yang mengarah pada paham radikal, harus diverifikasi sebelum disebarluaskan.
Ia mendorong mahasiswa mengisi lingkungan kampus dengan kegiatan positif melalui BEM, UKM olahraga, seni, kewirausahaan maupun kegiatan akademik lainnya.
“Kampus yang UKM-nya hidup, mahasiswanya sibuk dengan kegiatan positif dan prestasi, akan semakin kuat dalam mencegah masuknya paham-paham yang bertentangan dengan nilai kebangsaan,” jelasnya.
Selain itu, mahasiswa diminta tidak menjauhi teman yang mulai menunjukkan sikap intoleran. Pendekatan persuasif dan komunikasi yang baik dinilai lebih penting, dengan melibatkan dosen wali, pihak kampus maupun Bhabinkamtibmas apabila diperlukan.
Untuk menciptakan lingkungan kampus yang aman dan kondusif, AKP Singgih menekankan perlunya sinergi tiga unsur utama, yakni kampus, mahasiswa/masyarakat dan kepolisian.
Mahasiswa dan civitas akademika juga diingatkan dapat melaporkan gangguan keamanan dan ketertiban kepada Bhabinkamtibmas, Polsek terdekat maupun melalui Call Center 110.
Kegiatan tersebut diharapkan mampu meningkatkan karakter, kesadaran hukum, kedisiplinan, tanggung jawab serta kepedulian mahasiswa baru. Selain pencegahan radikalisme dan terorisme, pembekalan juga diarahkan untuk mencegah penyalahgunaan narkoba, perundungan, konflik serta penyalahgunaan media sosial.(nz)






